Puisi-Puisi Daruz Armedian di Harian Analisa (18 September 2016)

Diposting oleh Daruz Armedian pada 17:15, 23-Sep-16

Harapan Pohon-Pohon   pohon-pohon tak pernah bercita-cita menjadi kertas, kursi, meja dan sebagainya dan sebagainya   mereka tumbuh berharap jadi tempat berteduh dan sekadar ingin menyapa angin lalu kering atau tumbang pada musim kerontang   kita memaksa menjadikan mereka kertas, kursi, meja dan sebagainya dan sebagainya   pohon-pohon berbicara dengan bahasa mereka sedangkan kita meyakini hanya kita yang mampu berbicara   mereka mengaduh saat jatuh: rubuh sebab ditumbangkan tapi jerit mereka hanya terdengar sebagai derit dari ranting yang patah atau dahan yang rebah atau... [Baca selengkapnya]

Puisi-Puisi Daruz Armedian di Suara Merdeka (18 September 2016)

Diposting oleh Daruz Armedian pada 17:11, 23-Sep-16

Mengenang Sri Wulan                                 —adik sunan kalijaga padahal, Sri, di makammu nihil cungkup cukup tanah di tubuh melingkup tapi entah pada ziarah begini, mata tak kukatup seperti enggan menutup seperti sebuah upacara mengenang seperti mengecupmu pada nisan sebatang pohon dari rerimbun hutan kutatah dan kutitahkan sebagai kenang-kenangan akulah brandal bengal itu, dan telah berhenti jadi duri pada... [Baca selengkapnya]

Cerpen: Kisah Sebuah Jubah (Medan Bisnis, 28 Agustus 2016)

Diposting oleh Daruz Armedian pada 11:15, 29-Agu-16

            Naelinnia kecil bergegas memercikkan air membasuh wajahnya pada saat azan seusai fajar tiba. Dingin. Sebenarnya dingin. Tapi bukankah semua hanya sebentar seperti perjalanan angin?             Kalau sudah seperti itu, biasanya Naelinnia akan berangkat cepat-cepat ke arah masjid yang jaraknya tidak begitu dekat. Sambil membawa Al-Qur’an dan mukena, ia melangkah. Dalam hati, ia tak ingin terlambat. Nanti pak kiyai tidak suka. “Naelinnia,... [Baca selengkapnya]

Sajak-Sajak Daruz Armedian di LPM Arena (8 Agustus 2016)

Diposting oleh Daruz Armedian pada 21:08, 25-Agu-16

Orang Miskin Indonesia   tak ada yang lebih tabah daripada orang miskin Indonesia bukan hujan bulan Juni yang merahasiakan rindunya pada bunga-bunga bukan air mata kita yang jatuh pelan menemani luka-luka   tiap hari mengisap nestapa memeluk gersang memanggul durja tanah kelahiran tersihir neraka tanah rantauan hanya lautan bara   tapi, bukankah tiap hari tetap kau lihat mereka menyunggingkan senyum lantas tertawa?   Bantul, 3 Januari 2015   Orang Miskin   yang lalu hanya badai air mata di negeri ini tetap... [Baca selengkapnya]

Cerpen: Mahar Pohon-Pohon (Lampung Pos, 31 Juli 2016)

Diposting oleh Daruz Armedian pada 21:06, 25-Agu-16

Seandainya, kekasihku, kau ingin menikahiku dan aku meminta mahar perkawinan itu berupa pohon yang jumlahnya seribu, apa kau masih mau? Tak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Kau tahu, Bandung Bondowoso saking cintanya, ia rela memenuhi permintaan Roro Jonggrang untuk membuat seribu candi. Dan itu bisa dilaksanakan meski dengan kelicikan dan meski candi itu kurang satu. Bukankah hanya karena cinta... [Baca selengkapnya]

1. Cerpen Pembunuh Sri Wulan (Pikiran Rakyat, 7 Agustus 2016)

Diposting oleh Daruz Armedian pada 21:05, 25-Agu-16

Selalu saja ada yang bertanya siapa pembunuh Sri Wulan, kakak Brandal Lokajaya atau nama lain dari Raden Sahid itu. Sehari sebelum mati memang ia sudah menyiapkan kain kafannya sendiri. Tetapi di tubuhnya tak ada tanda-tanda bunuh diri. Setelah diperiksa, diperutnya mengendap racun sianida. Dan tentu saja, tidak mungkin ada orang pelosok Dusun Soko yang menjual racun itu sehingga mustahil Sri... [Baca selengkapnya]

1. Cerpen: Kita, Kota, dan Kota Kita (Haluan Padang, 8 April 2016)

Diposting oleh Daruz Armedian pada 21:04, 25-Agu-16

“Yuki, semalam di titik nol Malioboro hujan turun pelan. Aku masih sadar dan ingat betul, kita pernah sama-sama mengalami seperti ini: kedinginan yang tak terlalu. Kemudian kita mampir di salah satu warung gudeg sederhana. Kau membicarakan hal-hal yang sederhana pula. Tentang kotamu yang bermiripan dengan kotaku. Tetapi waktu sungguh-sungguh sudah berlalu. Adakah kau mengingat itu?” Seseorang mengagetkanku pagi itu. Padahal jarum... [Baca selengkapnya]

Sajak-Sajak Daruz Armedian di Metro Riau (10 Januari 2016)

Diposting oleh Daruz Armedian pada 20:59, 25-Agu-16

Kursi dan Meja Makan Malam   aku berbenah, mungkin saja hari akan jadi sepi orang-orang tidur tak membuka jendela dan jendela yang tertutup tak pernah mengajarkan rembulan mengintip kamar kita   kursi dan meja makan malam menunggu si tuan dihidangkannya sisa tempe goreng dan nasi goreng juga setengah air mineral dalam kemasan   makanan sisa adalah nanah harus terkubur dalam tanah   kukunyah udara dan tangan membuang sisa ada kepiluan mengerang tak kuhirau ada orang-orang dalam kepiluan... [Baca selengkapnya]

Cerpen: Memorabilia Elisa dan Bonekanya (Radar Bromo, 30 Maret 2016)

Diposting oleh Daruz Armedian pada 20:58, 25-Agu-16

Ibu semakin pendiam akhir-akhir ini. Sebagai anak yang pernah dilahirkan dan dibesarkannya dengan sudah payah, aku berusaha untuk membuatnya tersenyum kembali. Berbicara lagi. Tetapi baru saja aku hendak bertanya, ia ingin mengungkapkan sesuatu. Seolah-olah kata-katanya sejak kemarin memang sengaja diendapkan lama di dalam kalbu. Kemudian malam inilah waktu yang tepat untuk membeberkannya. Di menit-menit selanjutnya, ibu bercerita yang dimulai dari... [Baca selengkapnya]

Cerpen: Tukang Kutuk (Minggu Pagi, 25 Maret 2016)

Diposting oleh Daruz Armedian pada 20:55, 25-Agu-16

Kalau senja yang murung berganti gaun dan malam telah mendentangkan loncengnya, jangan sekali-kali bermain di taman itu, Anakku. Tukang kutuk akan keluar dan barangkali nanti mengutukmu jadi batu.             Begitulah Nyai Dasimah selalu mengingatkan anak-anaknya saat magrib tiba. Dan anak-anak itu percaya. Mereka takut dan memeluk ibunya yang janda. Dengan seksama mereka menyimak cerita demi cerita perihal kutukan yang biasa menimpa... [Baca selengkapnya]

Cerpen: Catatan Penantian (Merah Putih Pos, 3 April 2016)

Diposting oleh Daruz Armedian pada 20:53, 25-Agu-16

Sore ini tepat pukul empat lebih seperempat aku dan Nanda duduk berhadapan di kafe tempat biasa kami diskusi. Ada perbedaan di raut mukanya. Tak seperti biasa yang bahagia. Seperti ada sesuatu yang hilang, yang pergi, atau yang lain-lain penyebab wajahnya muram.             Es jus pesanan sudah sampai. Pelayan meletakkan di meja. Tanpa kami sadari, belum ada pembicaraan secara pasti saat ini.... [Baca selengkapnya]

Cerpen: Tembang Perempuan (Minggu Pagi Minggu ke 1, Juni 2016)

Diposting oleh Daruz Armedian pada 20:52, 25-Agu-16

Sumilah selalu percaya, bahwa kemanapun suaminya bepergian, di dadanyalah tempat untuk pulang. Tempat terakhir yang menyediakan rasa aman dan mengusir segala kesah yang mengusik hati dan pikiran.             Seperti hari ini. Ia di dapur memasak sendirian sambil mendendangkan tembang ‘lir-ilir tandure woh sumilir. Tak ijo royo-royo tak senggoh penganten anyar’. Dan berusaha meyakinkan hati bahwa suaminya tentu masih ingat jalan rumah,... [Baca selengkapnya]

Cerpen: Memorabilia Elisa dan Bonekanya (Radar Bromo, 30 Maret 2016)

Diposting oleh Daruz Armedian pada 20:48, 25-Agu-16

Ibu semakin pendiam akhir-akhir ini. Sebagai anak yang pernah dilahirkan dan dibesarkannya dengan sudah payah, aku berusaha untuk membuatnya tersenyum kembali. Berbicara lagi. Tetapi baru saja aku hendak bertanya, ia ingin mengungkapkan sesuatu. Seolah-olah kata-katanya sejak kemarin memang sengaja diendapkan lama di dalam kalbu. Kemudian malam inilah waktu yang tepat untuk membeberkannya. Di menit-menit selanjutnya, ibu bercerita yang dimulai dari... [Baca selengkapnya]

Cerpen: Perempuan Penabur Kembang di Kuburan (Tamanfiksi.com edisi 15. Juli 2016)

Diposting oleh Daruz Armedian pada 20:48, 25-Agu-16

Seperti abadi, perempuan itu selalu di kuburan ini. Tengah malam buta. Tengah malam tanpa suara apa-apa. Kecuali derik jangkrik, dekut burung, dan desau angin menerpa daun-daun. Perempuan itu tanpa mengeluarkan suara. Seperti bisu. Seperti terbungkam mulutnya.             Perempuan itu memang seperti punya jadwal tersendiri untuk mengunjungi makam ini. Dengan jubah warna hitam, dibalutkannya di pundak sebuah selendang. Dan melingkar di tangan... [Baca selengkapnya]

Sajak-Sajak Daruz Armedian di Readzone

Diposting oleh Daruz Armedian pada 20:48, 25-Agu-16

ThumbnailPuisi I SERPIH KERINDUAN di depan pintu, malam ini gerimis turun lagi di dalam diriku, ada yang memaksa untuk terus bertanya-tanya adakah ini serpih-serpih kerinduan yang kau cipta dari awan-awan? El, di dekatmu, aku pernah menatap wajah yang senda ada kesetiaan di sana maka bacalah aku pada puisi ini kucipta dari hujan, dari serbuk awan yang itu adalah kerinduanmu tanpa tepi Puisi II DI STASIUN, AKULAH PATUNG Eliana, hujan deras dari tenggara mencipta jejak paling ombak kenanglah... [Baca selengkapnya]

Cerpen: Bapak dan Sebuah Kenangan (Buanakata.com, 7 Agustus 2016)

Diposting oleh Daruz Armedian pada 20:47, 25-Agu-16

Waktu kecil, bapak sering mengajakku pergi ke sebuah jembatan di salah satu desa tempat kami tinggal. Kata bapak, jembatan adalah penghubung jalan. Kalau tidak ada jembatan, kita akan kesulitan jika mau melewati sungai. Di situlah aku selalu diberi cerita macam-macam. Banyak sekali cerita yang diutarakan, sehingga banyak juga yang aku lupakan. Yang selama ini masih kuingat adalah cerita tentang tiga... [Baca selengkapnya]

Cerpen: Sifat Baik Daun

Diposting oleh Daruz Armedian pada 20:37, 25-Agu-16

Memang seperti itulah menjadi daun. Melambai ketika angin membelai. Hidup bersama embun di pagi hari yang ranum. Bersama terik di siang hari yang membakar bumi. Tapi masalahnya, tidak ada yang mempermasalahkan. Daun dibiarkan begitu saja. Entah ketika masih setia menempel di ranting-ranting atau sudah gugur ke tanah-tanah, ke sungai, dan tempat-tempat lain yang sebelumnya tak pernah dikenali.             Dan pada suatu... [Baca selengkapnya]

Puisi-Puisi Daruz Armedian (Solo Pos, 19 Juni 2016)

Diposting oleh Daruz Armedian pada 04:16, 22-Jun-16

Menyalakan Korek Api   ada nyala yang sebentar membakar kepala kayu kecil ini menjalar hampir ke jemari kadang-kadang aku bosan di detik begini malam seperti es batu memanggil dingin, kemudian beku memasang kelam, kemudian membutakan mataku   jadi, aku akan sesementara ini? menjadi kayu kecil di sini Tuhanku, kenapa yang abadi hanya Kamu?   Mengingat Kuncir Rambutmu   di mana kamu yang pernah kanak memanggil namaku dengan teriak dua kuncir rambutmu kuingat, semasih sering kamu permainkan di sekitar ladang, di kala kita sama-sama... [Baca selengkapnya]

Cerpen: Tembang Perempuan (Minggu Pagi, 3 Juni 2016)

Diposting oleh Daruz Armedian pada 04:15, 22-Jun-16

Sumilah selalu percaya, bahwa kemanapun suaminya bepergian, di dadanyalah tempat untuk pulang. Tempat terakhir yang menyediakan rasa aman dan mengusir segala kesah yang mengusik hati dan pikiran.             Seperti hari ini. Ia di dapur memasak sendirian sambil mendendangkan tembang ‘lir-ilir tandure woh sumilir. Tak ijo royo-royo tak senggoh penganten anyar’. Dan berusaha meyakinkan hati bahwa suaminya tentu masih ingat jalan rumah,... [Baca selengkapnya]

Cerpen: Yang Menangis di antara Gelas Pecah (Metro Riau 14 Februari 2016)

Diposting oleh Daruz Armedian pada 19:36, 31-Mar-16

Yang Menangis di antara Gelas Pecah Oleh: Daruz Armedian*   Gelas-gelas pecah berserakan. Hujan pelan turun kemudian. Malam jadi kian sunyi saja. Serpihannya ke mana-mana. Ke kolong meja, ke lantai-lantai kotor dan lengket sebab vodka. Suatu malam yang barangkali lebih menyeramkan ketimbang pada sebuah cerita-cerita horror di manapun berada. "Dasar anak haram. Sudah tahu kalau malam mama sedang kerja di kafe-kafe. Malah dicari. Mama... [Baca selengkapnya]